<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jurnal Micko henry &#187; fotografi</title>
	<atom:link href="http://jurnal.micko.web.id/category/fotografi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jurnal.micko.web.id</link>
	<description>Jurnal orang biasa</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 Dec 2009 02:57:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Piktorialis Ingin Gambar Tampil Lebih Indah</title>
		<link>http://jurnal.micko.web.id/piktorialis-ingin-gambar-tampil-lebih-indah.html</link>
		<comments>http://jurnal.micko.web.id/piktorialis-ingin-gambar-tampil-lebih-indah.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 13:23:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>micko</dc:creator>
				<category><![CDATA[fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[angle]]></category>
		<category><![CDATA[bentuk]]></category>
		<category><![CDATA[cahaya]]></category>
		<category><![CDATA[Dokumentasi]]></category>
		<category><![CDATA[foto montase]]></category>
		<category><![CDATA[foto piktorial]]></category>
		<category><![CDATA[fotografer]]></category>
		<category><![CDATA[fotografi artistik]]></category>
		<category><![CDATA[klub foto]]></category>
		<category><![CDATA[komposisi]]></category>
		<category><![CDATA[pencahayaan]]></category>
		<category><![CDATA[pose]]></category>
		<category><![CDATA[Salon Foto]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<category><![CDATA[warna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal.micko.web.id/?p=673</guid>
		<description><![CDATA[Fotografi, Antara Seni dan Dokumentasi APAKAH fotografi itu merupakan seni atau dokumentasi? Jawabnya, foto bisa dimaknai sebagai seni, tetapi juga bisa dimaknai sebagai dokumentasi. Fotografi sebagai bentuk seni menitikberatkan pada nilai keindahan dibanding informasi, nilai historis, maupun pengetahuan. Sementara keindahan itu dijelaskan dalam dua argumen yang berbeda: sisi subjektif maupun objektif. Sisi subjektif ketika naluri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Fotografi, Antara Seni dan Dokumentasi</strong><br />
APAKAH fotografi itu merupakan seni atau dokumentasi? Jawabnya, foto bisa dimaknai sebagai seni, tetapi juga bisa dimaknai sebagai dokumentasi. Fotografi sebagai bentuk seni menitikberatkan pada nilai keindahan dibanding informasi, nilai historis, maupun pengetahuan. Sementara keindahan itu dijelaskan dalam dua argumen yang berbeda: sisi subjektif maupun objektif. </p>
<p>Sisi subjektif ketika naluri seseorang mengatakan bahwa foto itu indah, tetapi tidak dapat menjelaskan apa yang membuat dia menyenangi foto itu. Sedangkan dalam pandangan objektif, penjelasan tentang keindahan itu mem punyai karakteristik dengan ciri-ciri spesifik. Nilai keindahan dapat dilihat dari komposisi, keseimbangan, proporsi, dan skala. Selain itu, tentang warna, bentuk geometris yang menjelaskan pola dari repetisi objek.</p>
<p>Pada 1880 Henry Peach Robinson mengampanyekan naturalisme untuk mendukung <strong>fotografi artistik</strong>. Bahwa fotografi yang benar hanya melewati eksploitasi kemampuan kamera untuk menangkap realita dalam segala arah. Dia me­ngomposisikan subjek, memilih kostum model, memilih warna backdrop. Hal ini masih tergolong fotografi naturalistik. Menata dari <strong>cahaya, pose, pencahayaan, warna, bentuk, angle</strong> maupun <strong>komposisi</strong>. Gerakan ini punya ciri tajam pa da fokus utama dan sedikit autofokus pada fore ground maupun background. Selain itu, generasi ini mulai mengeksplorasi fotografi sebagai seni. Tidak terpaku pada gaya seni lukis. </p>
<p>Lantas, pertanyaan apakah fotografi sebagai seni? Fotografer seni atau piktorialis ingin memisahkan fotografi mereka dengan tujuan lain. Yakni, menjadikan pengambilan biasa menjadi sesuatu yang menarik secara visual. Sesuatu itu dipuaskan secara estetik. Gerakan piktorial ini akhirnya menginternasional, seperti The America Amateur Photographer (Salon Photographic), American Photo (Secession), Vienna Camera Club, Linked Ring Brotherhood di Inggris, dan Photo Club de Paris. </p>
<p>Di Indonesia lahir banyak <strong>klub foto</strong> beraliran piktorialis yang bernaung di bawah <strong>Salon Foto</strong>. Banyak piktorialis meyakini bahwa kesan artistik yang dibuat adalah untuk meningkatkan fotografi sehingga terlihat lebih indah. Penitikberatkan pada pola, rasa atmosfer, pencahayaan (ligthing), tajam, jelas, dan merepresentasikan detail.</p>
<p>Untuk mendapatkan efek, piktorialis menggunakan teknik cetak dengan bantuan software pengolah gambar yang disesuaikan keinginan <strong>fotografer</strong>. Piktorialis membuat foto tampak seperti lukisan. Fotografi sebagai bentuk seni dikembangkan oleh Alfred Stieglitz</p>
<p>Selain itu, ada gerakan mengembalikan fotografi yang tidak manipulatif dan langsung. Pada 1917 Stieglitz melakukan pendekatan baru terhadap fotografi sebagai bentuk seni. Dia masih memercayai bahwa objektivitas masih menjadi sangat esensial dalam fotografi. Realisasi tanpa disertai trik atau proses manipulasi.</p>
<p>Foto milik Stieglitz adalah langsung dan tidak manipulatif. Sebagai visual metafor, dia mengakurasi representasi objek di depan kamera nya. Konsep Stieglitz dikembangkan dari bentuk yang tangible menjadi intangible.</p>
<p>Lalu Edwad Weston menggunakan teknik yang sangat sederhana dan peralatan kamera view 8 x 10 dengan lensa stop down dengan aper ture ter kecil. Dengan demikian, dia menda patkan ketajaman dalam semua bagian gambar.</p>
<p>Bentuk akhir didapat foto dengan memperhitungkan detail, tekstur, gestur, dan proporsi. Foto terkenal Edward adalah foto tentang paprika. Foto itu begitu kuat objeknya dan punya makna personal. Meski hanya sebuah paprika, orang bisa mengintrepretasi atau mengimajinasikan seperti dua manusia berotot yang saling berpelukan. Padahal, foto itu hanya sebuah paprika.</p>
<p>Setelah itu, berkembang begitu banyak spesifikasi lain dalam <strong>foto piktorial</strong> itu sendiri. Misalnya, <strong>foto montase</strong> yang dilakukan Laszlo Moholy Nagy adalah kombinasi sejumlah foto sebagai collision pada 1927.</p>
<p>Sedangkan solarisasi dikembangkan Man Ray. Yakni, mengekspose gambar dengan memberikan pencahayaan selama proses pengambangan. Sekarang cara tersebut sudah dapat dilakukan pada program pengelola gambar.</p>
<p>JPNN</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal.micko.web.id/piktorialis-ingin-gambar-tampil-lebih-indah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Musibah Gempa dalam Photo Story</title>
		<link>http://jurnal.micko.web.id/musibah-gempa-dalam-photo-story.html</link>
		<comments>http://jurnal.micko.web.id/musibah-gempa-dalam-photo-story.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 11:59:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>micko</dc:creator>
				<category><![CDATA[fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[foto]]></category>
		<category><![CDATA[foto bencana alam]]></category>
		<category><![CDATA[foto esai]]></category>
		<category><![CDATA[Foto naratif]]></category>
		<category><![CDATA[foto spot news]]></category>
		<category><![CDATA[fotografer]]></category>
		<category><![CDATA[fotografer media]]></category>
		<category><![CDATA[news photo]]></category>
		<category><![CDATA[pemotretan]]></category>
		<category><![CDATA[photo story]]></category>
		<category><![CDATA[rangkaian foto]]></category>
		<category><![CDATA[redaktur foto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal.micko.web.id/?p=671</guid>
		<description><![CDATA[FOTOGRAFI amat mengenal photo story, yaitu rangkaian foto yang disusun hingga membentuk cerita dalam representasi peristiwa. Bisa saja kumpulan foto hanya menjadi foto terpisah dan bukan merupakan photo story jika tidak terintegrasi dalam kohesi naratif. Sebenarnya, photo story tidak hanya ditampilkan di media sewaktu peristiwa besar terjadi. Banyak tema non-spot news yang bisa disajikan dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>FOTOGRAFI amat mengenal <strong>photo story</strong>, yaitu rangkaian foto yang disusun hingga membentuk cerita dalam representasi peristiwa. Bisa saja kumpulan <strong>foto</strong> hanya menjadi foto terpisah dan bukan merupakan photo story jika tidak terintegrasi dalam kohesi naratif. Sebenarnya, photo story tidak hanya ditampilkan di media sewaktu peristiwa besar terjadi. Banyak tema non-spot news yang bisa disajikan dalam bentuk photo story. Misalnya, kehidupan malam, workaholic, homeless, pertambangan ilegal, kehidupan pengguna obat terlarang beserta tempat rehabilitasinya, maupun kecanduan minuman alkohol. Photo story adakalanya dibuat dalam beberapa menit ketika mengabadikan kejadian. </p>
<p>Tetapi, ada pula pembuatan photo story yang memerlukan waktu bertahun-tahun. Seperti Lewis W. Hine yang mendokumentasi 5 ribu foto tentang buruh anak di sejumlah wilayah di Amerika pada 1908 dan 1921. Lewat photo story Hine, akhirnya terjadi perubahan sosial dengan lahirnya regulasi dari pemerintahan federal untuk melarang mempekerjakan buruh anak. </p>
<p>Salah satu alasan mengapa <strong>foto bencana alam</strong>, seperti banjir, gempa bumi, dan longsor, menjadi atensi dalam photo story ialah bencana tersebut memberi begitu banyak pilihan momen. Tangis histeris, penderitaan, dan kesedihan menyatu dalam konteks pernyataan keprihatinan, di samping keruntuhan bangunan. Memotret bencana alam, seperti gempa, memerlukan manajemen pemetaan untuk mendeskripsikan keadaan lewat foto. </p>
<p>Penyisihan foto bisa dikategorikan spot news maupun features. Baik <strong>foto spot news</strong> maupun features bisa ditampilkan sebagai foto utama dalam single photo (foto tunggal) dalam halaman media cetak. Untuk media harian, single photo tetap memberi peluang foto headline. Kehadiran satu foto atau lebih di halaman utama menjadi politik keredaksian setiap media. Kadang satu foto dihadirkan sebagai foto headline dan foto kedua sebagai foto penunjangnya. Itu belum bisa dikatakan photo story, meski foto utamanya dua. Sebab, tidak serta-merta penyajian foto-foto tersebut terintegrasi secara kohesif. </p>
<p>Apabila sebuah rangkaian foto disusun sebagai proses dari awal hingga akhir, diawali adanya kompilasi berlanjut dengan penyajian resolusi, deretan foto tersebut disebut story photo naratif, bahkan argumentatif. </p>
<p><strong>Foto naratif</strong> bersifat membentuk cerita mulai permulaan hingga akhir secara berurut. Adapun photo story argumentatif merupakan <strong>foto esai</strong> yang memberi eksplanasi dari dua sudut pandang yang argumentatif. Umumnya foto bencana bisa dipetakan dalam rangkaian tahap. Bisa untuk running news yang terbit single photo dalam beberapa hari maupun sebagai rangkaian dalam bentuk photo story yang disajikan satu halaman penuh. </p>
<p>Penampilan single photo gempa besar secara running (berkesinambungan) di media membutuhkan tahap progres dan menghindari foto pengulangan. Misalnya, foto kehancuran infrastruktur menjadi tidak menarik ketika ditampilkan terus-menerus dalam beberapa hari. Dibutuhkan langkah maju dalam running news penyajian fotonya. Struktur pemetaan foto dalam kronologi peristiwa bencana besar sangat bergantung pada peran <strong>fotografer, redaktur foto</strong>, dan pemred media dalam mengorganisasikan tahap running <strong>news photo</strong>. </p>
<p>Pengorganisasian tahap-tahap liputan bertujuan menghindari foto yang monoton, tanpa progres, dan pengulangan yang tidak perlu. Mulai kejadian gempa sampai pascarehabilitasi membutuhkan tahap rangkaian foto yang berjenjang. </p>
<p>Kronologi pengabadian foto gempa tahap pertama adalah<br />
(1) menangkap ekspresi dan gerak masyarakat yang berhamburan keluar bangunan. Foto gempa dipastikan lebih banyak menampilkan foto kesedihan. Memang agak berbeda di tengah penderitaan bisa menghadirkan foto orang gembira apalagi tertawa. Sangat ironis, meski itu menarik untuk berita. Tetapi, hal tersebut belum pernah terjadi. </p>
<p>Disusul,<br />
(2) orang-orang yang berteriak histeris ketika menyaksikan bangunan yang ambruk. Tentu, foto itu hanya bisa diperoleh fotografer lokal yang berada di lokasi setempat. Fotografer di luar wilayah bencana masih punya banyak kesempatan untuk memperoleh momen lain. Sebab, kelangsungan peristiwa gempa terjadi lebih lama. Itu berbeda dengan kebakaran pesawat, tenggelamnya kapal, atau tabrakan kereta yang hanya dalam perlu hitungan jam untuk merekam momennya. </p>
<p>Tahap running news photo selanjutnya adalah,<br />
(3) merekam bangunan ambruk dalam kondisi yang parah menjadi sulit karena luasnya wilayah. Apalagi, jumlah bangunan yang runtuh sangat banyak. Dengan demikian, fotografer harus mencari bangunan paling rusak parah maupun momen yang menimbulkan kesan dramatis karena masih ada orang yang terjebak di dalam bangunan rusak. Banyak fotografer yang terfokus pada satu lokasi sehingga mengesampingkan bangunan lain. Padahal, bisa jadi bangunan lain memiliki nilai berita lebih. Untuk menggambarkan suasana kerusakan secara keseluruhan memang yang paling tepat dengan pengambilan dari atas heli.<br />
(4) Petugas gabungan medis, TNI-Polri, team rescue, dan aparat pemerintahan yang mencari korban dan mengevakuasi korban gempa dengan alat berat.<br />
(5) Rumah sakit yang kebanjiran pasien luka-luka berat maupun ringan. (6) Deretan korban gempa yang meninggal, biasanya diletakkan berjajar. (7) Kemudian pemotretan keadaan malam yang gelap tanpa listrik dan diganti dengan petromak. </p>
<p>Kesulitan <strong>fotografer media</strong> di daerah gempa adalah proses mengirim foto ketika infrastruktur dan jaringan telekomunikasi tidak berfungsi. Peristiwa itu terjadi ketika gempa besar yang mengguncang Kota Padang pada hari pertama. Foto-foto tidak bisa terkirim lewat internet ke luar daerah Padang. Dengan demikian, hampir seluruh tampilan foto di media cetak Indonesia tidak menggambarkan gempa yang besar. Salah satu cara mengatasi hal tersebut adalah penggunaan telepon satelit.</p>
<p>Running news photo berikutnya adalah,<br />
(8) prioritas subjek pada bayi, anak-anak, wanita hamil, orang cacat, orang tua renta. Point of interest pada subjek itu memberikan empati pada aspek kemanusiaan lebih tinggi. Lantas,<br />
(9) foto orang-orang yang tidak berani tidur di dalam rumah. Mereka mendirikan tenda atau tidur berkelompok jauh di depan rumah.<br />
(10) Pengungsian yang dikonsentrasikan di sebuah tempat. Suasana pengungsian di siang maupun malam.<br />
(11) Pembagian makanan dari dapur umum, termasuk pemberian bantuan berupa pakaian, makanan, dan uang. </p>
<p>Setelah gempa berlangsung beberapa hari, yang perlu dicermati fotografer adalah pendekatan terhadap subjek sebelum memotret. Hal itu dilakukan untuk menghindari kata-kata umpatan sebagai fotografer yang tidak berperasaan. Biasanya itu terjadi ketika korban hanya difoto, tapi tidak kunjung diberi bantuan. Itu terjadi pascagempa yang berlangsung beberapa hari, bukan saat awal terjadinya gempa. Mereka bisa jadi sangat sensitif. Mereka kadang menganggap mengabadikan penderitaan orang sering dimaknai mengeksploitasi. </p>
<p>Perlu pendekatan dulu sebagai etika memotret terhadap subjek di daerah gempa. Mengajak ngobrol, turut prihatin, dan ungkapan belasungkawa sangat dibutuhkan sebagai langkah pendekatan sebelum memotret. Pemotretan memang tidak terlihat sebagai aktivitas membantu secara langsung. </p>
<p>Namun, di samping mendokumentasikan, tugas fotografer adalah menginformasikan kepada khalayak agar melihat realitas melalui foto di media.<br />
(12) Lantas, selang beberapa lama di tempat pengungsian, kemungkinan terjadi penyebaran penyakit karena sanitasi tidak cukup baik.<br />
(13) Tahap terakhir <strong>pemotretan</strong> dalam <strong>rangkaian foto</strong> adalah pembersihan puing-puing reruntuhan, baik yang dilakukan manusia ataupun alat-alat berat. Sejumlah elemen peristiwa yang disajikan secara berkala dalam running news photo di harian media cetak menjadi single photo ketika ditampilkan terpisah setiap hari. Namun, rangkaian tersebut juga bisa menjadi photo story ketika direpresentasikan dalam susunan foto yang terintegrasi. </p>
<p><em>Oleh: Yuyung Abdi</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal.micko.web.id/musibah-gempa-dalam-photo-story.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memahami Lensa Kamera Fotografi (2)</title>
		<link>http://jurnal.micko.web.id/memahami-lensa-kamera-fotografi-2.html</link>
		<comments>http://jurnal.micko.web.id/memahami-lensa-kamera-fotografi-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 22:41:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>micko</dc:creator>
				<category><![CDATA[fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[kamera Canon]]></category>
		<category><![CDATA[Kamera Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[lensa]]></category>
		<category><![CDATA[Lensa Kamera]]></category>
		<category><![CDATA[Lensa Kamera Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[wide lens]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal.micko.web.id/?p=667</guid>
		<description><![CDATA[PERBEDAAN penggunaan lensa memberikan perbedaan perspektif. Perspektif adalah ukuran dan kedalaman relatif subjek dalam gambar. Perspektif juga bisa berarti perubahan bentuk, ukuran, dan kedalaman bidang yang relatif akibat perbedaan cara pandang antara objek dengan kamera. Perbedaan tersebut terjadi karena ada pergeseran posisi dalam melihat sesuatu dari sudut pandang, jarak, dan ketinggian yang tidak sama maupun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PERBEDAAN penggunaan <strong>lensa</strong> memberikan perbedaan perspektif. Perspektif adalah ukuran dan kedalaman relatif subjek dalam gambar. Perspektif juga bisa berarti perubahan bentuk, ukuran, dan kedalaman bidang yang relatif akibat perbedaan cara pandang antara objek dengan kamera. Perbedaan tersebut terjadi karena ada pergeseran posisi dalam melihat sesuatu dari sudut pandang, jarak, dan ketinggian yang tidak sama maupun penggunaan lensa dengan focal length yang berbeda. </p>
<p>Penggeseran posisi maupun penggunaan focal length yang berbeda memberikan perspektif yang berbeda pula. Sehingga, penggunaan berbagai jenis lensa memiliki fungsi yang berbeda. Seiring dengan perkembangan optik dan teknologi, variasi lensa menjadi begitu banyak. Hingga saat ini lensa DSLR dibagi dalam tiga kategori besar. Yaitu, (1) lensa dibedakan berdasar focal length, (2) rentang optik, dan (3) lensa varian. </p>
<p>Macam lensa berdasar panjang fokus terdiri atas lensa tele (tele pendek dan supertele), lensa wide (super-wide dan fish eye), serta lensa normal (standar). Sedangkan lensa berdasar rentang optis terdapat dua macam, yaitu lensa fix dan zoom. Yang terakhir, lensa varian terdiri atas lensa makro, reverse lens, bellow, swing, tilt, dan reflex.</p>
<p>Disebut lensa standar atau lensa normal karena memiliki panjang fokus sekitar 50 mm, sama dengan mata manusia saat melihat. Perbedaan mata dengan lensa normal itu hanya terletak pada sudut pandang. Mata manusia hampir 180 derajat dalam melihat sesuatu dari depan. Sedangkan penglihatan lensa standar dibatasi jendela bidik kamera yang punya sudut pandang 46 derajat. Namun, sekarang lensa normal tidak hanya memiliki focal length pada nilai 50 mm, melainkan berkembang mulai 46 mm hingga 55 mm.</p>
<p>Penyebutannya jadi sulit ketika memakai lensa dengan focal length sekitar 40 mm. Meskipun, pada lensa 35 mm ada kesepakatan disebut lensa sudut lebar atau <strong>wide lens</strong>. Kini lensa normal mengalami pergeseran penyebutan sejak diperkenalkannya kamera digital. Misalnya kamera digital yang tidak full frame dengan magnifikasi 1,5 maupun kamera four third system. Apakah masih relevan penyebutan bahwa lensa 50 mm termasuk kategori lensa normal? Padahal, angka focal length 50 mm dengan magnifikasi 1,5 lensa akan berubah menjadi 75 mm. Berarti, lensa tersebut mendekati jenis lensa tele pendek. </p>
<p>Demikian juga yang terjadi pada four third system, di mana panjang focal 50 mm menjadi 100 mm. Maka, mana yang benar, penggunaan angka yang tertera pada lensa ataukah bergantung jenis lensanya? Sebab, tidak semua kamera punya faktor magnifikasi yang sama. Ada yang punya pembesaran 1,3 seperti Canon EOS 1D, ada magnifikasi 1,6 milik entry level <strong>kamera Canon</strong> yang lain ataukah faktor pembesaran 1,5 milik Nikon kelas menengah atau pemula.</p>
<p>Sedangkan lensa wide memiliki focal length kurang dari 50 mm, lebih tepatnya focal length 35 mm pada kamera full frame. Sifat lensa sudut lebar adalah meluaskan pandangan atau memberikan kesan menjauhkan sesuatu yang dekat. Selain itu, memberikan ruang tajam dan luas, efek bayangan, serta kontras yang tinggi. Tetapi, lensa lebar memberikan efek distorsi yang mencembungkan daerah sekitar lingkaran tengah dan memipihkan bagian pinggir foto. Sehingga, lensa wide (lebar) lingkungan foreground tampak lebih lebar daripada background.</p>
<p>Lain halnya dengan lensa tele. Fungsinya adalah mendekatkan objek dengan merapatkan gradasi lapisan pada latar depan sampai latar belakang sehingga memiliki ruang tajam pendek. Benda yang berada jauh di belakang seakan berimpit. Semakin panjang focal length, makin sempit ruang tajamnya.</p>
<p>Sekarang banyak juga produk lensa yang menggabungkan wide, normal, dan tele dalam satu kesatuan. Tetapi, lensa yang punya rentang focal length panjang seperti 18-200 mm tersebut memiliki kecenderungan penurunan kualitas foto. Pemakaian focal length mendekati angka 18 mm akan terlihat tajam dengan kontras tinggi. Bila mendekati panjang fokus 200 mm, foto cenderung mengalami penurunan ketajaman dan warna. </p>
<p>JPNN</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal.micko.web.id/memahami-lensa-kamera-fotografi-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memahami Lensa Kamera Fotografi (1)</title>
		<link>http://jurnal.micko.web.id/memahami-lensa-kamera-fotografi-1.html</link>
		<comments>http://jurnal.micko.web.id/memahami-lensa-kamera-fotografi-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Sep 2009 22:47:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>micko</dc:creator>
				<category><![CDATA[fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[angle]]></category>
		<category><![CDATA[autofokus]]></category>
		<category><![CDATA[Canon]]></category>
		<category><![CDATA[foto]]></category>
		<category><![CDATA[fotografer]]></category>
		<category><![CDATA[hasil foto]]></category>
		<category><![CDATA[lensa]]></category>
		<category><![CDATA[lensa Canon]]></category>
		<category><![CDATA[Lensa Kamera]]></category>
		<category><![CDATA[Lensa Kamera Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[Nikon]]></category>
		<category><![CDATA[pixel]]></category>
		<category><![CDATA[resolusi]]></category>
		<category><![CDATA[sudut pandang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal.micko.web.id/?p=668</guid>
		<description><![CDATA[MEMPRESENTASIKAN foto melalui eksplorasi sudut pandang, angle, maupun prespektif sangat bergantung pada pemahaman terhadap lensa. Kemampuan memahami lensa membuat fotografer lebih mendalami dimensi ruang. Dia bisa mengimprovisasi objek sederhana menjadi tampilan foto elegan dalam perspektif yang berbeda. Bahkan, sesuatu yang tidak menarik secara visual dapat dibuat hingga punya daya tarik dengan mengubah sudut pengambilan (angle). [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>MEMPRESENTASIKAN <strong>foto</strong> melalui eksplorasi <strong>sudut pandang, angle</strong>, maupun prespektif sangat bergantung pada pemahaman terhadap <strong>lensa</strong>. Kemampuan memahami lensa membuat <strong>fotografer</strong> lebih mendalami dimensi ruang. Dia bisa mengimprovisasi objek sederhana menjadi tampilan foto elegan dalam perspektif yang berbeda. Bahkan, sesuatu yang tidak menarik secara visual dapat dibuat hingga punya daya tarik dengan mengubah sudut pengambilan (angle).</p>
<p>Untuk merepresentasikan foto berdasarkan kualitas, tentu kebutuhan lensa dengan mutu yang baik menjadi pertimbangan utama. Sebenarnya secara kualitas, tingkatan hasil foto ditentukan oleh tiga faktor. Yaitu, <strong>lensa, sensor, dan prosesor</strong>. Ketiganya berperan penting menghasilkan gambar yang baik. Salah satu peran sensor berhubungan dengan <strong>resolusi</strong>, yaitu jumlah <strong>pixel</strong>. Sedangkan prosesor berkorespondensi dengan dynamic range, selain tetap berkorelasi dengan sensor dan pilihan optik.</p>
<p>Dari tiga unsur tersebut, lensa merupakan urutan utama yang menentukan kualitas gambar, yaitu tajam, detail, dan clarity (jelas). Sebab, lensa dengan kualitas tidak optimal akan berpengaruh langsung terhadap <strong>hasil foto</strong> yang juga tidak optimal.</p>
<p>Memilih lensa bermutu baik memang berdasar banyak aspek. Mulai kontras optik, daya pisah lensa, bahan optiknya, hingga coating lens. Sedangkan pilihan fasilitas yang tidak berkaitan langsung dengan kualitas adalah jarak fokus terdekat, diameter lensa, konstruksi lensa (susunan optik dalam lensa), <strong>autofokus</strong> yang cepat, silent motor, mikroprosesor, motor mekanis di dalam, stabilizer (antishock), maupun pilihan focal lenght. Namun, seseorang tidak mungkin bisa meneliti sedetail itu ketika memilih lensa. Mereka kadang lebih terpikat oleh penjelasan si penjual. Sah saja, tapi yang perlu diteliti adalah jenis bahan lensanya dari plastik atau kaca optik.</p>
<p>Setelah itu, baru kriteria kualitas lensanya. Setiap prosuden punya spesifikasi sendiri pada produk lensa. Misalnya, <strong>lensa Canon</strong> kelas L series dan non L series. L artinya kode Luxulury, lensa paling istimewa kualitasnya. Banyak yang menghindari pembelian lensa kit Canon (non L series) yang dianggap menimbulkan error 99 (kerusakan, sehingga memutus hubungan antara bodi dan lensa). Salah satu penyebabnya, kabel selendang fleksibelnya mudah putus.</p>
<p>Lensa yang bagus selalu berkorelasi dengan harganya yang tinggi. Apalagi, bila dilengkapi fitur tambahan, seperti bukaan aperture terbesar, image stabilizer, dan USM (ultrasonic motor) untuk Canon. Sedangkan Nikon dengan istilah VR vibration reduction dan SWM (silent wave motor). Lensa Canon seri L, <strong>Nikon</strong> kode ED, Carl Ziess maupun Leica dibuat dengan resolving power (daya pisah) lensa dan kontras optik yang tinggi. Daya pisah ini memang hanya bisa dilihat di laboratorium khusus lensa yang dilengkapi miskroskop dengan pembesaran 50 x atau lebih. Hasil foto lantas dianalisis nilai numeriknya. Nilai tersebut menunjukkan jumlah garis dalam milimeter. Metode itu digunakan untuk menentukan resolusi lensa yang baik.</p>
<p>Jadi, daya pisah lensa adalah kemampuan memisahkan bagian paling kecil elemen dalam foto. Yakni, kerapatan sebuah garis yang masih tampak meskipun berimpitan. Sedangkan kontras optik adalah perbedaan daerah terang (highlight) dengan daerah gelap (shadow) yang masih memiliki detail. Kontras tinggi dihasilkan ketika rasio reproduksi antara hitam dan putih adalah jelas dan tegas perbedaannya.</p>
<p>Kemudian, kontras rendah terjadi ketika perbedaan tersebut tidak jelas. Kontras di sini berbeda dengan dinamic range. Dynamic range merupakan perbandingan yang diukur antara nilai intensitas tertinggi hingga terendah pada exposure ekstrem. Persoalan rendahnya dynamic range berhubungan dengan keterbatasan prosesor dan sensor kamera untuk menangkap perbedaan antara daerah gelap dan terang hingga 10 stop. Misalnya, memotret di dalam ruang dengan menyertakan panorama di luar ruang. Tentu sulit sekali kamera merekam dua daerah tersebut, kecuali memiliki dynamic range yang baik.</p>
<p>Sementara, interelasi coating lens dengan kualitas foto dapat dicermati pada permukaan lensa. Ketika permukaan lensa kita lihat, tampak warna ungu kehijauan atau ungu kebiruan. Sebenarnya warna tersebut berasal dari magnesium flourida yang dilapiskan pada permukaan lensa. Fungsi pemberian coating ini bertujuan mereduksi refleksi cahaya pada permukaan lensa sehingga hasil foto tidak terlihat flare. Salah satu efek flare adalah menurunkan ketajaman.</p>
<p>Coating pun bisa terkikis jika permukaan lensa terlalu sering dibersihkan. Bahkan, membersihkan jamur pada optik bagian dalam bisa menghilangkan coating lens. Setiap lensa menggunakan tipe coating berbeda-beda. Ada yang single coating atau multicoating. Secara umum multicoating lebih efesien merefleksikan panjang gelombang spektrum yang tampak pada lensa dengan indeks refraktif optimal.</p>
<p>Namun, sehebat-hebatnya kualitas lensa, jika tersentuh jari, tentu timbul dampak buruk pada hasil gambar. Hal ini disebabkan ujung jari finger print terdiri atas lipid, asam amino, dan garam yang menempel pada lensa sehingga gambar menjadi buram. Akibatnya, selain ketajaman berkurang, juga timbul flare. </p>
<p>JPNN</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal.micko.web.id/memahami-lensa-kamera-fotografi-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Warna dalam Fotografi</title>
		<link>http://jurnal.micko.web.id/warna-dalam-fotografi.html</link>
		<comments>http://jurnal.micko.web.id/warna-dalam-fotografi.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Aug 2009 23:15:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>micko</dc:creator>
				<category><![CDATA[fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[foto]]></category>
		<category><![CDATA[foto digital]]></category>
		<category><![CDATA[foto piktorial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal.micko.web.id/?p=664</guid>
		<description><![CDATA[WARNA selalu memberi kesan. Setiap individu memiliki kesan berbeda terhadap warna. Sebab, warna sangat merespons mata dan merangsang rasa. Pilihan warna dalam foto memberi pengaruh langsung terhadap persepsi penikmatnya. Warna juga menjadi simbol serta identifikasi terhadap sesuatu. Warna sangat berkorespondensi dengan elemen bentuk maupun cahaya. Karena itu, warna menjadi salah satu elemen penting dalam fotografi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>WARNA selalu memberi kesan. Setiap individu memiliki kesan berbeda terhadap warna. Sebab, warna sangat merespons mata dan merangsang rasa. Pilihan warna dalam <strong>foto</strong> memberi pengaruh langsung terhadap persepsi penikmatnya. </p>
<p>Warna juga menjadi simbol serta identifikasi terhadap sesuatu. Warna sangat berkorespondensi dengan elemen bentuk maupun cahaya. Karena itu, warna menjadi salah satu elemen penting dalam fotografi. Foto-<strong>foto piktorial</strong> lebih cenderung menekankan warna agar terlihat eye catching. </p>
<p>Warna dalam fotografi dibagi tiga macam. Yakni,<br />
(1) warna fisik atau cahaya,<br />
(2) warna kimiawi, dan<br />
(3) warna psikis. Warna cahaya merupakan warna dari gelombang elektromagnetik yang dipancarkan sumber cahaya.</p>
<p>Warna sebagai bagian dari spektrum cahaya terdiri atas bermacam panjang gelombang. Masing-masing panjang gelombang memberi warna yang berbeda. Hanya sebagian kecil spektrum cahaya di alam ini yang bisa ditangkap oleh medium mata. Spektrum cahaya yang tampak oleh mata berkisar 400 nm-700 nm.</p>
<p>Di antara sejumlah warna dalam spektrum yang tampak, terdapat tiga warna sebagai warna dasar. Disebut warna dasar karena warna itulah yang membentuk warna-warna lain dalam kombinasinya. </p>
<p>Warna triple tersebut terdiri atas red, green, dan blue atau dikenal dengan istilah warna RGB. Hasil kamera <strong>foto digital</strong> yang kita gunakan merupakan perpaduan filter warna RGB yang ditempatkan di permukaan sensor. Warna-warna RGB dalam susunan mozaik di atas photosite tersebut menjadikan foto digital berwarna. </p>
<p>Jadi, sebenarnya sinyal elektrik hasil konvensi prosesor melalui sensor berupa informasi data monokrom. Filter RGB-lah yang menjadikannya berwarna. Warna red, green, dan blue disebut pula warna addictive. </p>
<p>Berbeda dari warna yang dihasilkan spektrum cahaya, warna kimiawi merupakan warna yang sudah ada pada benda. Warna materi adalah warna pigmen yang dimiliki sebuah benda dan memberi karakteristik warna yang berbeda dari warna cahaya. Pigmentasi pada benda tidak menghasilkan cahaya, melainkan bergantung sumber cahaya sekitarnya yang menerangi agar terlihat mata. </p>
<p>Klasifikasi warna pigmen, menurut teori Prang, digolongkan dalam beberapa tingkat. Yaitu, (1) warna primer, (2) warna sekunder, dan (3) warna tersier. Warna primer merupakan warna dasar yang menghasilkan turunan warna dari hasil kombinasinya. Warna dasar itu terdiri atas warna merah (red), kuning (yellow), dan biru (blue). Sedikit berbeda dari warna addictive. </p>
<p>Dalam teori ini, warna turunan hasil pencampuran warna primer disebut warna sekunder. Warna sekunder merupakan campuran dua warna primer. Contohnya, warna merah dicampur kuning menghasilkan warna oranye atau jingga. Warna kuning dengan biru menghasilkan warna hijau. Sedangkan pencampuran biru dengan merah menghasilkan warna ungu. Sementara itu, warna tersier merupakan gabungan warna sekunder dengan warna primer. </p>
<p>Warna psikis merupakan representasi elemen warna dalam foto yang memberi pengaruh psikologis dalam diri seseorang. Warna menjadi simbol yang digunakan untuk menginterpretasikan makna. Selain memberi deskripsi suasana yang berhubungan dengan rasa, warna juga memberi keindahan, menarik perhatian, serta berperan penting dalam penyampaian pesan. </p>
<p>Keagungan, kemewahan, kesejukan, kesedihan, maupun kegembiraan adalah gambaran terbatas terhadap kesan yang ditampilkan oleh warna. Karena itu, warna hangat (warm color) dan warna dingin (cool color) termasuk warna psikis. </p>
<p>Di antara dua macam warna itu, warm color dan cool color, terdapat warna netral (neutral color). Warna dingin (cool color) merupakan warna yang memberi kesan kesejukan, kedamaian, dan ketenangan. Misalnya biru, hijau, dan ungu. Warna biru merupakan warna langit siang hari ketika cerah. Sedangkan hijau lebih identik dengan warna hijau daun. </p>
<p>Warna hangat (warm color) berhubungan dengan matahari yang bersinar saat pagi. Warna-warna yang muncul, antara lain, merah, magenta, oranye, dan kuning yang memberi kesan kehangatan. </p>
<p>Sedangkan neutral color terdiri atas warna putih, hitam, dan abu-abu. Selain itu, banyak yang memasukkan cokelat, silver, dan gading ke dalam warna netral. </p>
<p>Memilih warna dalam konteks fotografi berbeda dari memilih warna untuk desain interior. Dalam desain interior, semua warna dapat dipilih dan diatur pewarnaannya sesuai keinginan kita. Untuk fotografi, pemilihan warna merupakan upaya pemaduan warna sebelum pengambilan gambar. Pemilihan warna-warna objek dalam konsep still life. Bisa juga menghindari atau menyeleksi kolaborasi unsur materi dengan background. Menyajikan warna background yang tidak sama dengan subjek. </p>
<p>Bagaimana membuat warna selaras atau harmonis? Kombinasi warna sangat diperlukan untuk menunjang keserasian itu. Perpaduan warna terdiri atas (1) warna gradasi, (2) warna senada, (3) warna kontras atau komplemen, serta (4) warna acak atau tak beraturan. </p>
<p>Warna kontras merepresentasikan kebalikan dari dua warna dalam metode diagram lingkaran warna brewster. Warna terang dengan warna gelap, misalnya, antara hitam dan putih. Warna yang berseberangan bisa cyan dengan merah, magenta dengan hijau, atau biru dengan kuning.</p>
<p><em>sumber jawapos Minggu, 30 Agustus 2009</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal.micko.web.id/warna-dalam-fotografi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Street Photography</title>
		<link>http://jurnal.micko.web.id/street-photography.html</link>
		<comments>http://jurnal.micko.web.id/street-photography.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2009 09:18:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>micko</dc:creator>
				<category><![CDATA[fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[foto]]></category>
		<category><![CDATA[photography]]></category>
		<category><![CDATA[street photography]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnal.micko.web.id/?p=659</guid>
		<description><![CDATA[STREET photography merupakan jenis fotografi yang mengkhususkan pengambilan gambar secara candid tentang aktivitas kehidupan masyarakat urban. Banyak hal yang menarik dalam kehidupan urban di perkotaan, tempat masyarakat menjadi elemen penting dalam representasi visual. Setiap kota punya tipikal kehidupan dan bangunan fisik berbeda-beda. Kehidupan kota divisualisasikan dengan keindahan sekaligus kebalikannya. Daerah perkotaan memberikan tampilan foto yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>STREET <strong>photography</strong> merupakan jenis <strong>fotografi</strong> yang mengkhususkan pengambilan gambar secara candid tentang aktivitas kehidupan masyarakat urban. Banyak hal yang menarik dalam kehidupan urban di perkotaan, tempat masyarakat menjadi elemen penting dalam representasi visual. Setiap kota punya tipikal kehidupan dan bangunan fisik berbeda-beda. Kehidupan kota divisualisasikan dengan keindahan sekaligus kebalikannya. Daerah perkotaan memberikan tampilan foto yang erat pada kehidupan orang di trotoar dengan mode baju yang dikenakan, lalu lintas, pedagang, transportasi, dan keunikan lain.</p>
<p>Memang <strong>street photography</strong> tidak mengarah pada persoalaan sosial, melainkan lebih bertumpu pada dinamika kehidupan masyarakat urban. Determinasi itu menghindari overlapping dalam deskripsi foto jurnalistik. Karakteristik street photography tentu lebih menekankan pemotretan subjek apa adanya, tanpa mengarahkan, bahkan lebih bersifat snapshot. Unsur kejelian, selektivitas dalam memilih objek, sangat dibutuhkan, sementara menunggu merupakan waktu terberat untuk mendapatkan decisive moment. Sementara itu, sifat momen, pilihan arah cahaya, bentuk geometris, dan warna menjadi bagian yang juga ditekankan pada foto ini. </p>
<p>Sejak pascatragedi serangan gedung kembar WTC 11 September 2001, street photography yang dilakukan orang ketika bepergian menjadi isu sensitif karena kecurigaan yang berlebihan terhadap aktivitas memotret di jalur pedestrian. Memang kecurigaan itu sangat diskriminatif dalam melihat orang. Kita jadi tidak sebebas dulu ketika memotret di kawasan bisnis, wilayah skyscraper, terminal, maupun subway. Sesekali petugas di sekitar tempat tersebut akan menanyakan keperluan pemotretan. Teguran itu biasanya dialamatkan kepada fotografer yang beraktivitas sendirian. Ada juga pemotretan yang berujung pada interogasi polisi. </p>
<p>Mengidentifikasi wilayah publik dan privat dalam pendekatan tekstual menjadi kompleksitas pembagian ruang yang ambigu bagi dunia fotografi. Alasan regulasi, otoritas kepemilikan, maupun ranah hukum menjadi tumpang tindih. Tidak adanya aturan tertulis tentang wilayah publik dan wilayah privat mengakibatkan ketidakjelasan itu. Sebenarnya, area publik merupakan ruang terbuka bagi masyarakat umum. Sedangkan area privat adalah wilayah yang spesifik dalam kepemilikan individu, sekelompok individu, ataupun institusi. </p>
<p>Sesuatu yang otonom bisa dilekatkan pada wilayah privat karena dasar legitimasi otoritas. Memang harus diakui, banyak yang memprivatkan wilayah publik dalam regulasi ilegal untuk kepentingan kepemilikan atau bisnis. Area publik itu dijadikan properti yang bersifat privat oleh masyarakat. </p>
<p>Di area publik tidak ada larangan untuk memotret. Yang termasuk wilayah publik adalah jalan, jalur pedestrian, pantai, taman, airport, pelabuhan, terminal bus, maupun stasiun kereta api. Namun, khusus airport, ada daerah terlarang untuk difoto, seperti ruang imigrasi dan runway. Sedangkan di lingkungan lembaga pendidikan, mulai playgroup, TK, SD, SMP, hingga SMA, kita diwajibkan untuk meminta izin otoritas yang berwenang, seperti kepala sekolah. Khusus di kompleks kampus, wilayah publik merupakan area yang sangat tentatif, kecuali dalam kelas.</p>
<p>Sementara itu, kantor polisi, instansi militer, pengadilan, rumah sakit, dan rumah tahanan merupakan wilayah yang sangat sensitif untuk aktivitas pemotretan, kecuali dengan izin. </p>
<p><strong>Dunia fotografi</strong> juga mengenal area privat yang terbuka untuk umum. Misalnya tempat hiburan, hotel, bioskop, restoran, salon, tempat wisata, museum, maupun shopping center. Di wilayah-wilayah itu ada yang membebaskan untuk aktivitas pemotretan, ada yang sangat melarang, ada juga yang meminta bayaran bila aktivitas fotografi itu ditujukan untuk kepentingan komersial. </p>
<p>Di Amerika, Australia, maupun Singapura, memotret di plaza atau mal bukan kegiatan yang dilarang, sepanjang tidak berada dalam outlet. Tetapi, di Indonesia memotret di plaza kerap dilarang. Sebab, ada kekhawatiran bahwa pemotretan itu dilakukan untuk kepentingan penjiplakan desain interior. </p>
<p>Wilayah larangan lain adalah pabrik, industri, bank, bursa efek, dan rumah pelacuran. Sementara itu, rumah pribadi, apartemen, kamar hotel, dan ruang dalam mobil digolongkan area privat. Ruang mobil menjadi area privat dengan mengacu pada kasus kematian Putri Diana pada 1997, saat para fotografer mengabadikan si putri dalam mobil dengan kondisi mengenaskan. Persoalan tersebut kemudian dibawa ke pengadilan. Meski para paparazi tidak ditahan, kasus itu akhirnya menjadi regulasi baru dalam dunia fotografi bahwa ruang mobil termasuk wilayah privat.</p>
<p>Memotret bukan lagi sesuatu yang bebas dimiliki setiap orang. Kini banyak aturan tak tertulis yang membatasi kegiatan memotret. Mengapa memotret kini diikuti bermacam regulasi? Sebab, selalu ada kepentingan di balik foto. Foto tidak dipersepsi apa adanya. Karena bisa dibisniskan, <strong>foto</strong> dapat digunakan untuk memplagiat karya orang atau mengungkap keburukan tersembunyi, bahkan dimanfaatkan untuk kegiatan spionase. Padahal, aktivitas pemotretan bisa jadi hanya ditujukan untuk dokumentasi pribadi, kenang-kenangan, atau bahan referensi. Tapi, tidak bagi pemilik otoritas area privat.</p>
<p>Oleh: yuyung abdi<br />
JPNN</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal.micko.web.id/street-photography.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>berharap dapat job foto kawinan &#8230; tapi dapet beneran moment kawinan &#8230;.</title>
		<link>http://jurnal.micko.web.id/berharap-dapat-job-foto-kawinan-tapi-dapet-beneran-moment-kawinan.html</link>
		<comments>http://jurnal.micko.web.id/berharap-dapat-job-foto-kawinan-tapi-dapet-beneran-moment-kawinan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Oct 2007 00:44:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>micko</dc:creator>
				<category><![CDATA[fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[amatiran]]></category>
		<category><![CDATA[foto kawinan]]></category>
		<category><![CDATA[fotografer]]></category>
		<category><![CDATA[fotografer amatiran]]></category>
		<category><![CDATA[kucing kawin]]></category>
		<category><![CDATA[kuda kawin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://insanemicko2.wordpress.com/2007/10/27/berharap-dapat-job-foto-kawinan-tapi-dapet-beneran-moment-kawinan/</guid>
		<description><![CDATA[photo kucing kawin diambil saat liburan lebaran kemaren photo kuda kawin diambil ketika masih kerja di tempat kerja yang dulu &#8230; fotografer amatiran yang kurang kerjaan &#8230; HIDUP AMATIR !]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="tepi" src="http://img.photobucket.com/albums/v293/insanemicko/mickofile/oktober2007/juli-296.jpg" alt="juli 296 berharap dapat job foto kawinan ... tapi dapet beneran moment kawinan ...."  title="berharap dapat job foto kawinan ... tapi dapet beneran moment kawinan ...." /> <img class="tepi" src="http://img.photobucket.com/albums/v293/insanemicko/mickofile/oktober2007/juli-295.jpg" alt="juli 295 berharap dapat job foto kawinan ... tapi dapet beneran moment kawinan ...."  title="berharap dapat job foto kawinan ... tapi dapet beneran moment kawinan ...." /></p>
<p align="left">
<p><img class="tepi" src="http://img.photobucket.com/albums/v293/insanemicko/mickofile/oktober2007/juli-294.jpg" alt="juli 294 berharap dapat job foto kawinan ... tapi dapet beneran moment kawinan ...."  title="berharap dapat job foto kawinan ... tapi dapet beneran moment kawinan ...." /></p>
<p align="left">
<p><img class="tepi" src="http://img.photobucket.com/albums/v293/insanemicko/mickofile/oktober2007/juli-294.jpg" alt="juli 294 berharap dapat job foto kawinan ... tapi dapet beneran moment kawinan ...."  title="berharap dapat job foto kawinan ... tapi dapet beneran moment kawinan ...." /></p>
<p align="left">
<p><img class="tepi" src="http://img.photobucket.com/albums/v293/insanemicko/mickofile/oktober2007/juli-289.jpg" alt="juli 289 berharap dapat job foto kawinan ... tapi dapet beneran moment kawinan ...."  title="berharap dapat job foto kawinan ... tapi dapet beneran moment kawinan ...." /></p>
<p align="left">
<p><img class="tepi" src="http://img.photobucket.com/albums/v293/insanemicko/mickofile/oktober2007/oktober07-009.jpg" alt="oktober07 009 berharap dapat job foto kawinan ... tapi dapet beneran moment kawinan ...."  title="berharap dapat job foto kawinan ... tapi dapet beneran moment kawinan ...." /></p>
<p align="left">
<p><img class="tepi" src="http://img.photobucket.com/albums/v293/insanemicko/mickofile/oktober2007/oktober07-007.jpg" alt="oktober07 007 berharap dapat job foto kawinan ... tapi dapet beneran moment kawinan ...."  title="berharap dapat job foto kawinan ... tapi dapet beneran moment kawinan ...." /></p>
<p align="left">
<p><img class="tepi" src="http://img.photobucket.com/albums/v293/insanemicko/mickofile/oktober2007/oktober07-008.jpg" alt="oktober07 008 berharap dapat job foto kawinan ... tapi dapet beneran moment kawinan ...."  title="berharap dapat job foto kawinan ... tapi dapet beneran moment kawinan ...." /></p>
<p align="left">
<p><img class="tepi" src="http://img.photobucket.com/albums/v293/insanemicko/mickofile/oktober2007/oktober07-010.jpg" alt="oktober07 010 berharap dapat job foto kawinan ... tapi dapet beneran moment kawinan ...."  title="berharap dapat job foto kawinan ... tapi dapet beneran moment kawinan ...." /></p>
<p align="left">
<p>photo kucing kawin diambil saat liburan lebaran kemaren</p>
<p align="left">
<p>photo kuda kawin diambil ketika masih kerja di tempat kerja yang dulu &#8230;</p>
<p align="left">
<p align="left">
<p>fotografer amatiran yang kurang kerjaan &#8230;</p>
<p align="left">
<p>HIDUP AMATIR !</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal.micko.web.id/berharap-dapat-job-foto-kawinan-tapi-dapet-beneran-moment-kawinan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HUNTING POTO LAGI</title>
		<link>http://jurnal.micko.web.id/hunting-poto-lagi.html</link>
		<comments>http://jurnal.micko.web.id/hunting-poto-lagi.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jan 2007 02:02:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>micko</dc:creator>
				<category><![CDATA[fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[fotografer]]></category>
		<category><![CDATA[hunting foto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/wpmicko/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[kemaren hari minggu, hunting poto lagi berlokasi di candi badut, tidar malang. ada sekitar 13 orang anak2 fotografer.net malang. liputan behind the scene nya bisa di lihat di : + sini [versi forum anak2 FN] + sini [versi multiply 1 ku] + sini [versi multiply 2 ku]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="tepi" src="http://www.fotografer.net/images/forum/577376.jpg?id=1045b49dd729f76" alt=" HUNTING POTO LAGI" width="300" title="HUNTING POTO LAGI" /></p>
<p><img class="tepi" src="http://images.reqviem713.multiply.com/image/3/photos/32/500x500/32/januari2007-162.jpg?et=L4k%2C9mPjm%2CkoVlp0OYgAdA" alt=" HUNTING POTO LAGI" width="300" title="HUNTING POTO LAGI" /><br />
kemaren hari minggu, hunting poto lagi berlokasi di candi badut, tidar malang. ada sekitar 13 orang anak2 fotografer.net malang.<br />
liputan behind the scene nya bisa di lihat di :<br />
+ <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.fotografer.net/isi/forum/topik.php?id=577376&amp;p=1" target="new">sini [versi forum anak2 FN]</a><br />
+ <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://reqviem713.multiply.com/photos/album/31" target="new">sini [versi multiply 1 ku]</a><br />
+ <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://reqviem713.multiply.com/photos/album/32" target="new">sini [versi multiply 2 ku]</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal.micko.web.id/hunting-poto-lagi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>narsis</title>
		<link>http://jurnal.micko.web.id/narsis.html</link>
		<comments>http://jurnal.micko.web.id/narsis.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Sep 2004 00:18:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>micko</dc:creator>
				<category><![CDATA[fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[foto]]></category>
		<category><![CDATA[friendster]]></category>
		<category><![CDATA[narsis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://insanemicko2.wordpress.com/2004/09/10/narsis/</guid>
		<description><![CDATA[foto laennya &#8230; harus login dulu di friendster]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://photos.friendster.com/photos/94/97/7487949/5988594533825s.jpg" alt="5988594533825s narsis"  title="narsis" /></p>
<p>foto laennya &#8230; harus login dulu di friendster</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal.micko.web.id/narsis.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>dokumentasi terkini</title>
		<link>http://jurnal.micko.web.id/9.html</link>
		<comments>http://jurnal.micko.web.id/9.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Mar 2004 01:43:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>micko</dc:creator>
				<category><![CDATA[fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[APJII]]></category>
		<category><![CDATA[detik]]></category>
		<category><![CDATA[nikon fm10]]></category>
		<category><![CDATA[pekan komik indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://insanemicko2.wordpress.com/2004/03/15/9/</guid>
		<description><![CDATA[bagi2 keceriaan &#8230; ini foto yang sempet masuk harian pagi dimana bung seggaf bekerja. halaman satu dan di pojok kanan bawah. di foto tersebut, adalah 2 insan manusia yang berasal dari 2 negara berbeda dan melangsungkan pernikahannya tepat saat 14 februari 2004 lalu. tempatnya ? ditengah2 sawah ! coba tebak, nyokapku yang mana hayo ? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>bagi2 keceriaan &#8230;</p>
<p><img class="picture" src="http://insanemicko.t35.com/filemicko/maret16.gif" alt="maret16 dokumentasi terkini"  title="dokumentasi terkini" /></p>
<p>ini foto yang sempet masuk harian pagi dimana bung seggaf bekerja. halaman satu dan di pojok kanan bawah.</p>
<p>di foto tersebut, adalah 2 insan manusia yang berasal dari 2 negara berbeda dan melangsungkan pernikahannya tepat saat 14 februari 2004 lalu. tempatnya ? <strong>ditengah2 sawah !</strong></p>
<p>coba tebak, nyokapku yang mana hayo ? <em>*bagi yang beruntung dapet cd gratis kompilasi buatan sendiri*</em></p>
<p><img class="picture" src="http://insanemicko.t35.com/filemicko/maret11.gif" alt="maret11 dokumentasi terkini"  title="dokumentasi terkini" /></p>
<p>sebuah event pekan komik indonesia. yang kebetulan diadain di sebuah kota di jatim. karya2 yang dipajang lumayan rame, tapi pengunjungnya lumayan sepi.</p>
<p>foto diatas diambil dari sebuah stand anak art yang menamakan klan-nya bajak laut. selain komik art, mereka juga menampilkan video art animasi. keren !</p>
<p><img class="picture" src="http://insanemicko.t35.com/filemicko/maret12.gif" alt="maret12 dokumentasi terkini"  title="dokumentasi terkini" /></p>
<p>sebuah stand di pekan komik indonesia &#8230;</p>
<p><img class="picture" src="http://insanemicko.t35.com/filemicko/maret17.gif" alt="maret17 dokumentasi terkini"  title="dokumentasi terkini" /></p>
<p>idem &#8230;</p>
<p><img class="picture" src="http://insanemicko.t35.com/filemicko/maret15.gif" alt="maret15 dokumentasi terkini"  title="dokumentasi terkini" /></p>
<p>acara workshop webdesign dan animasi yang diselenggarakan oleh fak. elektro unibraw. pembicara yang hadir antara laen <strong>budiono darsono</strong> [yang punya <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.detik.com" target="new">detik.com</a>], wakil dari sekjen APJII [asosiasi penyedia jasa internet indonesia] dan juga wakil dari pemerintah pusat bidang IT.</p>
<p>di event ini juga, teman blogger kita dari jogja, <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.cinila.com/" target="new">si cinila</a>, meraih juara 01 design web untuk kategori umum. kalo nggak salah dia bikin web unofficial dari band indie <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.mymocca.com" target="new">mocca</a>.</p>
<p><img class="picture" src="http://insanemicko.t35.com/filemicko/maret24.gif" alt="maret24 dokumentasi terkini"  title="dokumentasi terkini" /></p>
<p>foto2 bejat &#8230;</p>
<p><img class="picture" src="http://insanemicko.t35.com/filemicko/maret23.gif" alt="maret23 dokumentasi terkini"  title="dokumentasi terkini" /></p>
<p>idem &#8230;</p>
<p><img class="picture" src="http://insanemicko.t35.com/filemicko/maret04.gif" alt="maret04 dokumentasi terkini"  title="dokumentasi terkini" /></p>
<p>idem juga &#8230;</p>
<p><img class="picture" src="http://insanemicko.t35.com/filemicko/maret07.gif" alt="maret07 dokumentasi terkini"  title="dokumentasi terkini" /></p>
<p>idem juga &#8230;</p>
<p><img class="picture" src="http://insanemicko.t35.com/filemicko/maret05.gif" alt="maret05 dokumentasi terkini"  title="dokumentasi terkini" /></p>
<p>idem juga &#8230;</p>
<p><img class="picture" src="http://insanemicko.t35.com/filemicko/maret03.gif" alt="maret03 dokumentasi terkini"  title="dokumentasi terkini" /></p>
<p>idem juga &#8230;</p>
<p><img class="picture" src="http://insanemicko.t35.com/filemicko/maret02.gif" alt="maret02 dokumentasi terkini"  title="dokumentasi terkini" /></p>
<p>idem juga &#8230;</p>
<p><img class="picture" src="http://insanemicko.t35.com/filemicko/maret01.gif" alt="maret01 dokumentasi terkini"  title="dokumentasi terkini" /></p>
<p>paling bejat &#8230;.</p>
<p>tool : nikon fm10, lens nikkor 35-70 mm, kodak pro image film with ISO 100</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnal.micko.web.id/9.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
